Anonymous


Cast : Lee Sora
          Oh Sehun
           Park Jihye
Genre : Angst, sad, school life

Jujur ini fanfic pertama gue yang jadi. Alhamdullilah, semoga enjoy, jangan lupa comment ya !!!
Don't be plagiat guys.



anonymous.


Sebenarnya aku sudah cukup lelah untuk mempertahankan perasaan ini.
Aku sudah cukup lelah untuk mampu melanjutkan apa yang kurasakan selama ini.
Perasaan sepihak, dimana hanya aku yang terus mencintai, tanpa ia mau mencoba untuk melakukan hal yang sama.
Setiap kali aku mulai menyerah, aku mencoba untuk kembali bangkit.
Aku percaya bahwa “akhir yang bahagia” tidak hanya terjadi didalam dongeng yang dulu sering kudengar waktu kecil. Itu terjadi didunia nyata, dunia tempat aku dan dia berpijak pada alas yang sama.
Ya, sekalipun aku mulai menertawakan diriku sendiri yang tampak bodoh karena asumsi yang kubuat untuk meyakinkan bahwa diriku tak pernah salah akan arti cinta yang sebenarnya.
Hanya waktu yang mampu menjawab.
Acap kali ia mendapatiku menatapnya diam-diam. Balasanya ? jangan tanya, sudah pasti ia melenggang pergi dengan wajah datarnya. Ya Tuhan, kapan aku mampu melunakkan hatinya untukku ?
“Sora, sudahlah, sampai kapan kau akan terus menatapnya seperti itu? Sampai tubuhmu lumutan pun ia tidak akan menatapmu balik. Kau tahu dia orang semacam apa !” ucap Jihye seraya memakan nacosnya dalam hiruk pikuk kantin siang itu.
“Takdir Tuhan tidak ada yang tahu Jihye-ya.”
“Arraseo nona Oh!” ucapnya sembari menekankan pada kata Oh
“Astaga Jihye, bagaimna jika ia mendengar. Ia pasti akan berpikir bahwa aku wanita gila yang mengaku-ngaku sebagai kekasih rahasianya, lagipula ini kantin, bagaimana jika fansnya mendengar?  matilah kita berdua !”
“Cihh, lihat bahkan dia tidak melihat ke kita sedikitpun. Dan aku juga tidak melihat adanya makhluk astral pecinta Oh Sehun.” Ucapnya kembali menekankan kata Oh Sehun
“Baiklah, sekali lagi kau menggodaku dengan kata Oh Sehun. Anggap saja kita tidak pernah mengenal, apalagi bersahabat.” Ucapku menahan amarah yang telah samapi di ubun-ubun.
“Astaga, jangan marah Sora sayang, aku janji tidak akan menggodamu lagi. Kalau tidak kau siapa lagi yang mau jadi sahabatku ?”
“Bagus, pertahankan itu. Kajja kita pergi, kantin semakin penuh anak, sangat tidak nyaman”

Setelah lepas dari tangan Jihye sinting itu, aku pergi ketaman belakang sekolah. Taman dimana aku biasa merenungkan kemalanganku.
Aku duduk ditempat biasa, dengan angin semilir yang menerpa wajahku lembut. Menerbangkan beberapa helai rambut coklatku.
“Chogi, bolehkah aku duduk disini aggashi ?” tangannya menunjuk sisa bangku taman yang sedang kududuki, ucap suara yang entah datangnya darimana. Tunggu ! suara ini terasa familiar ditelingaku. Suara yang menggelitik gendang telingaku. Suara ini milik Oh Sehun, pria yang selama ini aku elu-elukan. Tuhan kau terlalu baik padaku sehingga kau membuatku berfantasi sampai sejauh ini. Walaupun ini hanya fantasi, aku berharap ini akan terjadi sedikit lebih lama. Aku ingin menikmatiya. Terimakasih Tuhan.
“Permisi, apa aku boleh duduk disini ?” Astaga apa ini nyata? seseorang tolong tampar aku. Suaranya terdengar begitu nyata. Tuhan, apa ini yang disebut takdir ?
“Baiklah, aku anggap iya !” ucapnya semabri menmpatkan diri tepat disampingku.
Tuhan bantu aku mengontrol detak jantungku. Aku rasa sebentar lagi jantungku akan lepas dari tempatnya dan berlari menggelilinggi Alabama selama 3 tahun, seperti Forrest Gump.
“Kau Sora kan ? Siswi kelas XI-C ?”
Astaga apa lagi ini ? ia tahu namaku, ia juga tahu kelasku. Ahh sepertinya sore nanti aku harus pergi ke dokter untuk memastikan bahwa jantungku baik-baik saja.
“Ne, bagaimana kau tahu ?” balasku dengan nada yang sedikit bergetar
“Tentu saja aku tahu, bukankah kau menyukaiku ?”
Deg! Tahu dari mana dia ? Jangan-jangan Jihye ? Ah tidak mungkin ! Aku yakin ia tidak akan menghianatiku.
“Bagaimana sunbae bisa tahu ?” ucapku bergetar karena takut
“Itu tidak penting darimana aku tahu, yang penting adalah berhenti menyukaiku ! Aku jijik dengan orang semacam dirimu” ucapnya, tata bicaranya sekatika menjadi dingin. Mungkin itu kata terakhirnya, karena setelahnya ia bangkit dan pergi meninggalkanku sendiri ditaman. Sendiri dengan hatiku yang sudah tak berbentuk ! sudah tak karuan ! Orang-orang benar, jangan terlalu berharap pada hal yang tak pasti, “akhir yang bahagia” hanya ada di dongeng. Aku harus mulai percaya bahwa hidup tak selalu sejalan dengan apa yang kita harapkan. Waktu telah menjawab pertanayanku sekarang. Pertanyaan yang sia-sia saja kutanyakan, karena jawabanya akan selalu sama. Ia tidak mencintaiku seperti halnya aku mencintainya.

Komentar

Postingan Populer