[SALAH TAFSIR]

ternyata aku salah menafsirkan sikapnya
senyum manis yang selalu ia umbar dihadapanku
jemari hangat yang tak jarang bersentuhan dengan milikku
serta tatapan mata yang senantiasa tajam menusuk seakan memaksa masuk
bilik hatiku kini sudah terbuka penuh untuknya
jiwa ragaku siap kupersembahkan dalam malam malam sunyi miliknya
tapi ternyata kalimat pertama paragraf ini menghancurkan setitik harapan yang tertanam dalam direlung dadaku
aku salah menafsirkan segala bentuk indah sikapnya
tentang betapa percayadiriku menganggap aku istimewa dimatanya
ketika ternyata ia berperilaku sama terhadap setiap wanita yang ditemuinya
sakit memang, hancur apalagi, tapi pasrah adalah hal yang pasti
terlanjur namanya terpatri dihati
tapi ternyata takdir membawa jawaban lain untuk harapan dan doa-doaku
semoga terbaik untuknya,
lelaki pembawa duka.

Komentar

Postingan Populer