kabar dari Jogja (1)


Sedikit berita dari Kota Jogja; teruntuk ayah dan bundaku yang tercinta. 
Aku disini baik, benar kata orang, Jogja memang asik. Walau kadang Jogja tak se-Istimewa rumah yang aku tinggalkan jauh disana, tapi selebihnya semua berjalan  dengan menarik.
Ayah, bunda, aku mendapat banyak teman dan pengalaman baru, berbagai macam berbagai ragam. 
Salah satunya yang akan aku ceritakan kali ini. 
Perkenalkan; ini divisi Pengabdian Masyarakat Dewan Mahasiswa Justicia, mereka bilang bahwa lingkup kecil ini adalah keluarga, hmm semoga...
Kembali ke bulan-bulan lalu, dimana aku masih bingung, haruskah aku menjadi mahasiswa kupu-kupu, agar luang jadwalku, agar panjang durasi tidurku HAHAHA. Tapi aku ingat, aku ada disini untuk memburu pengalaman, agar tidak pucat pasi hidupku ini. Tak butuh waktu lama untuk tahu apa itu Dema Justicia, yang dimana setiap Kamis berlalu-lalang korsa hitam-nya yang membara, menggoda mata setiap insan yang melihatnya. 
September adalah bulan yang dinanti, pendaftaran untuk kader-kader baru resmi dibuka, tak perlu menunggu waktu lama untuk meyakinkan diri. Tanpa basa-basi aku meminta formulir untuk diisi. 
Pengabdian Masyarakat, dari namanya saja sudah menyenangkan, dan aku bukan tipikal orang yang terlalu pemikir, maka tertulislah divisi itu menjadi pilihan pertama. Walau banyak sekali peminatnya, tak sedikitpun menyurutkan rasa percaya.
Lalu wawancara, terlaksana dengan sempurna.
Selanjutnya tibalah waktu yang sedikit dinanti sekaligus di-antisipasi, LDPR outdoor. Kami ditempatkan di desa Pakunden, Magelang, berada di sebelah timur kota Jogja.
Disana aku tinggal di istana milik Bapak Sadirin dan Ibu Suhar. Mereka hanya tinggal berdua, anaknya merantau, tapi aku lupa kemana.
Oh iya, aku tak sendirian disana, melainkan bersama wanita cantik nan baik bernama Farah. Hai Farah! aku rindu.. hehe
Disana hari-hari berjalan baik, walau kurang asik, tanpa telefon di genggaman tangan, hahaha maklum aku ini budak teknologi.
Banyak pengalaman yang aku dapat, tapi yang paling membekas di memori adalah dini hari terakhir disana. Dimana kami dibawa berjalan-jalan keliling desa, dengan kain menutupi mata. Hingga kami dikumpulkan dilapangan bola, disambut dengan api-api kecil yang disusun melingkar, beserta dua bendera yang ditempatkan ditengahnya. 
Lalu selanjutnya, dibacakanlah tekad dema.
Kata demi kata yang terlontar dari mulut-mulut kakak tingkatku malam itu masih saja melekat erat dikepala, setiap butirnya benar-benar meresap didalam dada, membawa deru detak jantung tak karuan entah kemana. 
Meski malam itu suaraku habis, tak bisa mengucap sumpahku dengan ambis, hanya tersengar lirihan tipis, tapi percayalah dalam tubuhku ada api yang tersulut, membara pada setiap padan katanya. 
Lalu akan kulewatkan bagian saat kembali kerumah dan kutempatkan lagi ketika kami kembali dikumpulkan untuk pengumuman divisi mana yang kami terima. 
Tak mau basa-basi lagi, intinya aku diterima di pilihan utama. Aku masih ingat, saat itu namaku dipanggil diurutan pertama. 
Aku bersyukur tentang bagaimana baiknya Tuhan padaku, meski kadang sifatku masih nista, tapi aku tak pernah dipandang sebelah mata oleh-Nya.
Doakan aku ya teman-teman, semoga aku kuat memikul tanggung jawab yang dilimpahkan padaku nantinya.
Dan maaf, untuk tulisan panjang lebarku kali ini, aku hanya sedang ingin bercerita.

Komentar

Postingan Populer